Thursday, August 19, 2010
BIOLOGI KELAS X SEMESTER I
Biologi merupakan cabang sains yang mempelajari berbagai permasalahan makhluk hidup, dan untuk mempelajari melalui proses dan sikap ilmiah ini sebagai konsekuensi biologi. Dengan menggunakan proses dan sikap ilmiah akan memperoleh produk ilmiah.
Dalam mempelajari sains terdiri dari 3 komponen yaitu :
1. Sikap ilmiah Merupakan sikap yang harus dimiliki untuk berlaku obbyektif dan jujur saat mengumpulkan dan menganalisa data.
2. Proses ilmiah Merupakan perangkat ketrampilan kompleks yang digunakan dalam melakukan kerja ilmiah.
Proses ilmiah dapat dilakukan dengan pendekatan ketrampilan proses dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
• Ketrampilan proses meliputi:
1. Mengobservasi Mencari gambaran atau informasi tentang objek penelitian melalui indera. Dalam biologi hasil observasi seringkali dibuat dalam bentuk gambar (misal gambar dunia dll), bagan (missal bagan siklus hidup kupu-kupu), tabel (misal tabel pertumbuhan penduduk suatu wilayah), grafik (misal grafik hubungan antara tabel pertumbuhan kecambah), dan tulisan.
2. Menggolongkan Untuk mempermudah dalam mengidentifikasi suatu permasalahan.
3. Menafsirkan Memberikan arti sesuatu fenomena/kejadian berdasarkan atas kejadian lainnya.
4. Mempraktikkan/meramalkan Memperkirakan kejadian berdasarkan kejadian sebelumnya serta hukum-hukum yang berlaku. Prakiraan dibedakan menjadi dua macam yaitu prakiraan intrapolasi yaitu prakiraan berdasarkan pada data yang telah terjadi; kedua prakiraan ekstrapolasi yaitu prakiraan berdasarkan logika di luar data yang terjadi.
5. Mengajukan pertanyaan Berupa pertanyaan bagaimana, karena pertanyaan ini menuntut jawaban yang diperoleh dengan proses.
• Langkah sistematis dalam proses ilmiah/metode ilmiah meliputi:
a) Merumuskan masalah
Ada tiga cara dalam merumuskan permasalahan yaitu:
1) Apakah variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat objek eksperimen?
2) Bagaimana pengeruh variabel bebas terhadap variabel terikat objek eksperimen?
3) Apakah ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat objek eksperimen
b) Menyusun kerangka berfikir
Kerangka berfikir dicari melalui kepustakaan atau fakta empiris.
c) Merumuskan hipotesis
Hipotesis merupakan suatu dugaan yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah sebelum dibuktikan. Ada 2 macam hipotesis dalam eksperimen, yaitu:
1) Hipotesis nol (H0) : tidak ada pengnaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
2) Hipotesis alternatif (H1) : ada pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat
d) Melakukan eksperimen
Untuk mendukung atau menyangkal hipotesa itu perlu dibuktikan melalui eksperimen. Dalam melakukan eksperimen melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1) Taraf perlakuan
2) Pengendalian faktor lain
3) Ulangan
4) Pengukuran
e) Analisis data
Analisa data dapat menggunakan statistik atau secara deskriptif.
f) Menarik kesimpulan
Ada dua kemungkinan dalam kesimpulan yaitu hipotesis diterima (dugaan sementara sesuai dengan eksperimen) atau ditolak (dugaan sementara tidak sesuai dengan eksperimen).
g) Publikasi
Hasil penelitian di publikasikan ke kalayak melalui jurnal penelitian, seminar atau lewat internet.
Thursday, February 11, 2010
1. Sebutkan ciri suatu tanaman yang mengalami pertumbuhan !
2. Jelaskan perbedaan antara pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder !
3. Sebutkan factor-factor internal dan eksternal yang mempengaruhi
pertumbuhan pada tanamaman !
4. Sebutkan macam-macam hormone yang mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman !
5. Jelaskan pengaruh giberelin pada tanaman !
6. Jelaskan perbedaan antara anabolisme dan katabolisme !
7. Tuliskan sifat-sifat enzim !
8. Jelaskan tahapan-tahapan respirasi aerob disertai dengan hasil akhirnya !
9. Jelaskan proses reaksi terang dan reaksi gelap pada fotosintesis !
10. Tuliskan tahapan-tahapan dalam siklus Calvin !
11. Sebutkan fungsi gen sebagai substansi hereditas !
12. Gambarkan sebuah kromosom berikut keteranganya !
13. Jelaskan perbedaan RNA dan DNA !
14. Jelaskan mekanisme sintesis protein !
15. Jika rantai antisense memilki urutan basa nitrogen GGA SST TAG GTS,
Maka rantai sensenya mempunyai urutan …
Rantai kodonnya adalah …..
Sunday, August 30, 2009
Prajab 09 Sragen
1. Malam Yang AneH
Sore itu, kami datang, tidak kencan namun karena jadwal yang sama maka kamipun datang ke tempat yang sama pada waktu yang sama yaitu di Balai Diklat Kabupaten Sragen, dan kami pun disambut oleh Pak Pandu, yang sore itu pula kami diantar ke tukang cukur di depan Balai Diklat, dengan tangkasnya tukang cukur tersebut menghabisi rambut kami sehingga kamipun dalam waktu kurang 15 menit telah gundul, kami saling memandang dan memang lucu, lucu sekali, angin malam begitu terasa di kepala kami, dinginn.
Kemudian saya pun melihat daftar hunian kamar, ternyata saya di kamar Anggrek 2 bersama 9 teman lain yang datang dari Karanganyar, malam pertama kami tidak bisa tidur, karena suasana kamar yang panas sebenarnya ada AC namun kami sepertinya tidak diperkenankan menghidupkannya, bisa dibayangkan betapa tersiksanya kami.
Malam berikutnya saya mulai bisa tidur, namun tidurkupun tidak bisa nyenyak, ada nyamuk, dan ada suara- suara aneh yang muncul dari penghuni yang tidur disamping saya suara itu begitu mengangguku, ada yang bicara sendiri alias nglindurr, ada yang kerot alias apa ya .. ada juga yang sambil tidur menghafalkan Panca Prasetya Korpri, ada juga yang menyanyi Hymne Pamong Praja. Ah malam yang anehhh.
Rutinitas diklatpun mulai kami jalani dari materi di ruang teori, makan , sampai apel pagi dan apel malam, semua harus dengan baris, ini merupakan sesuatu yang tak pernah kami lakukan, pertama terasa asing tetapi lama kelamaan menjadi biasa.
2. Pak Agus Dan giGi
Sore itu saya dan teman-teman siswa diklat ngantri mandi, sehingga ada yang dapat giliran mandi agak petang, setelah mandi Pak Agus tidak segera keluar dari kamar mandi, keringat dingin mulai keluar dari dahinya, entah apa yang dirasakan, dalam hatinya berkata 1 juta, 1 juta aduhh satu juta hilang, kemudian Beliaupun keluar dengan langkah gontai, campur bingung, saat membenahi letak sabun dan sikat gigi Pak Agus berubah menjadi semangat, karena yang dicarinya ternyata ada bersama sikat gigi, yaitu gigi palsu yang harganya nyampai 1 jutaaa, ndak jadi hilang yaaa Pak.
3. Sama –samA
Pak Luthfi adalah satu-satunya Widyaiswara dari Semarang yang menyampaikan materi tentang komunikasi efektiv, dengan penampilan yang perlente Beliau masuk ruang teori, lucu, menarik sehingga kami tidak ngantuk dibuatnya, kemudian dengan gayanya yang khas berhasil ngerjain salah satu siswa prajab serta panitia Prajab, yang saat siswa tersebut disuruh langsung berangkat tanpa menanyakan lebih dahulu tentang apa yang diminta, ada yang tak terlupakan dari Pak Luthfi bagi saya yaitu sama-sama bothaknya ha;haha .
4. Hantu kamaR MandI
Suara ramai terdengar begitu jelas dari kamar mandi yang satu ini, banyak wanita yang berbincang-bincang diluar kamar mandi mereka ngatri akan mandi, bahkan pintu kamar mandi pun diketuk sehingga sayapun mempercepat mandi, kranpun kami matikan aneh suara ramai tersebut hilang berubah jadi sunyi, kranpun saya hidupkan suara tersebut terdengar lagi, sampai beberapa kali saya lakukan, aneh suara siapa ini, begitu keluar dari kamar mandi ternyata diluar sangat sunyi, saat itu jam 03 dini hari, mungkinkah ini hantu, tapi aku tidak takutttt, setelah ketemu teman ternyata hal serupa juga terjadi, hii hantuuuuu yang tidak menakutkankkkkaaaan
Friday, June 19, 2009
Flu Babi
INILAH.COM, Jakarta – Flu Babi alias Swine Flu atau H1N1 setidaknya sudah menewaskan banyak orang di Meksiko. Pandemi Flu Babi juga telah menyebarkan ke Amerika Serikat bahkan seluruh dunia
Bahkan Badan Kesehatan Dunia WHO sudah menyatakan pandemi Flu Babi sudah berada di level 6 alias pandemi global.
Menurut Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS kepada wartawan di Makassar, Sabtu (25/4), pemerintah melakukan enam langkah untuk kesiapsiagaan mencegah H1N1.
Enam langkah itu adalah:
1. Mengumpulkan data dan kajian ilmiah tentang penyakit ini dari berbagai sumber, 2. Berkoordinasi dengan WHO untuk memantau perkembangan.
3. Membuat surat edaran kewaspadaan dini
4. Melakukan rapat koordinasi dengan para kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan
5. Berkoordinasi dengan Badan Litbangkes untuk kemungkinan pemeriksaan spesimen, dan (6) berkoordinasi dengan Departemen Pertanian dan Departemen Luar Negeri untuk merumuskan langkah-langkah tindakan penanggulangan.
Tjandra mengatakan, penyakit flu babi adalah penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan melalui binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan penularan antar manusia.
Secara umum penyakit ini mirip dengan influenza (Influenza Like Illness-ILI) dengan gejala klinis seperti demam, batuk pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, napas cepat atau sesak napas, mungkin disertai mual, muntah dan diare.
“Virus H1N1 sebenarnya biasa ditemukan pada manusia dan hewan terutama babi tetapi keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Begitu juga dengan virus flu burung H5N1 meskipun sama-sama virus influenza tipe A,” ujar Tjandra.
Menurut Tjandra, cara penularan flu babi melalui udara dan dapat juga melalui kontak langsung dengan penderita. Masa inkubasinya 3-5 hari. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai seperti halnya terhadap flu burung.
“Menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, menutup hidung dan mulut apabila bersin, mencuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas, dan segera memeriksakan kesehatan apabila mengalami gejala flu adalah tahap awal menghindari flu babi,” ujar Tjandra. [L1]
Flu Babi dapat menyebar
Flu babi atau swine influenza (H1N1), pertama kali dideteksi muncul di Meksiko pada 13 April lalu. Virus ini menyebar cepat ke berbagai belahan dunia. Menteri Kesehatan Meksiko, Jose Angel Cordova, Senin (27/4), melaporkan jumlah korban tewas akibat virus H1N1 (flu babi) telah bertambah menjadi 149 orang. Dari jumlah ini, baru 20 yang telah dikonfirmasi terjangkit virus flu babi. Sedangkan sisanya masih menanti hasil uji laboratorium.
Selain Meksiko, sejumlah negara turut melaporkan temuan kasus flu babi di negara mereka. Amerika Serikat, misalnya, mencatat 41 orang telah terjangkit virus flu babi. Sebanyak 28 di antaranya adalah pelajar salah satu sekolah di New York. Selain AS, Kanada dan Selandia Baru turut melaporkan terjangkitnya warga mereka.
Flu Babi atau swine influenza, merupakan virus yang diduga jenis baru dan kombinasi virus flu babi, flu burung, dan flu manusia. Departemen Kesehatan Meksiko menyatakan virus berjenis H1N1 memiliki sejumlah gejala, antara lain demam di atas 39 derajat Celsius, sakit kepala, pegal linu, dan iritasi mata.
Meski diyakini flu babi belum sampai ke Indonesia, Departemen Kesehatan meminta semua daerah, terutama kawasan peternakan waspada.
"Penyakit tersebut bisa menyebar melalui perpindahan manusia dari satu negara ke negara lain," kata Yudhoyono saat membuka rapat antisipasi penyebaran flu babi di kantor Presiden, Senin malam (27/4/2009).
Menurut Yudhoyono, pemerintah akan melakukan berbagai langkah antisipatif, salah satunya pengecekan ke maskapai-maskapai penerbangan, terutama yang berasal dari Meksiko, Amerika Serikat, dan negara-negara yang telah tertular flu babi.
Untuk berjaga-jaga, pemerintah memasang alat deteksi suhu tubuh (thermal scanner) di 10 bandar udara dan pelabuhan Indonesia. Alat yang bisa mendeteksi suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius itu, antara lain, dipasang di Medan, Batam, Bali, Makassar, Jakarta, Surabaya, dan Kalimantan Selatan. Otoritas kesehatan pelabuhan Batam juga memasang body clean disinfection health quarantine, mesin pembersih virus yang melekat di tubuh para pendatang.
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menjelaskan, tingkat kematian (case fatality rate/CFR) akibat penyakit itu hanya sekitar 6,4 persen, jauh lebih kecil dibanding tingkat kematian akibat flu burung yang hingga kini masih lebih dari 80 persen.
Ditambahkannya, meski kasus itu belum dilaporkan terjadi di Indonesia namun pemerintah sudah memiliki kapasitas memadai untuk mengantisipasi penyebaran virus influenza karena sejak penyakit flu burung merebak pada 2005 berbagai upaya sudah dilakukan untuk mencegah dan mengantisipasi kejadian luar biasa influenza.
Perihal pengobatan terhadap pasien flu babi, menurut Siti Fadilah, sama dengan penanganan terhadap flu burung, yakni dengan oseltamivir (Tamiflu) dan Indonesia masih memiliki cukup stok obat antivirus oseltamivir yang efektif untuk pengobatan flu burung dan penyakit influenza babi.
Friday, January 23, 2009
Thursday, January 8, 2009
Ganggang

Habitat alga adalah air atau di tempat basah, sebagai Epifit atau
Ganggang berkembang biak dengan cara vegetatif dan generatif.
BERDASARKAN PERBEDAAN PIGMEN, GANGGANG DIBAGI MENJADI 4 DIVISIO
1. CLOROPHYTA (ganggang hijau)
Mengandung pigmen hijau, yaitu klorofil
Contoh :
- Chlamydomonas sp.
- Chlorella sp.
- Euglena sp. Volvox sp. mahluk transisi antara ganggang dan
protozoa
2. CHRYSOPHYTA (ganggang keemasan)
Memiliki pigmen Karoten, disamping adanya klorofil.
Contohnya yang paling umum adalah Navicula sp. (Ganggang kresik = Diatomae), ganggang ini mengandung zat kersik yaitu silikat. Tanah yang mengandung ganggang ini disebut Tanah Diatom, baik sekali sebagai bahan lapisan pada dinamit, dapat pula digunakan sebagai bahan penggosok, saringan dan lain-lain.
3. PHAEOPHYTA (ganggang pirang=ganggang coklat)
Memiliki pigmen Fikosantin, disamping adanya klorofil. Semua anggotanya hidup di laut.
Contohnya:
- Turbinaria australis
- Sargassum siliquosum
- Fucus vesiculosus (bahan pewarna
alami)
Beberapa jenis ganggang ini menghasil-kan Asam Alginat yang berguna bagi industri tekstil dan makanan sebagai zat warna
4. RHODOPHYTA (ganggang merah)
Memiliki pigmen Fikoeritrin, di samping ada-nya klorofil.
Contohnya:
- Eucheuma spinosum, merupakan
penghasil agar-agar.
- Gracillaria sp., menghasilkan bahan untuk
pembuatan kosmetika
Monday, December 8, 2008
Tata Nama Makhluk Hidup

Tatanama binomial
Tatanama binomial (binomial berarti 'dua nama') merupakan aturan penamaan baku bagi semua organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua kata dari sistem taksonomi (biologi), dengan mengambil nama genus dan nama spesies. Nama yang dipakai adalah nama baku yang diberikan dalam bahasa Latin atau bahasa lain yang dilatinkan. Aturan ini pada awalnya diterapkan untuk fungi, tumbuhan dan hewan oleh penyusunnya (Carolus Linnaeus), namun kemudian segera diterapkan untuk bakteri pula. Sebutan yang disepakati untuk nama ini adalah 'nama ilmiah' (scientific name).
Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional bagi Tatanama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan lumut kerak, serta fosil tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tatanama Zoologi (ICZN) bagi hewan dan fosil hewan; dan Peraturan Internasional bagi Tatanama Prokariota (ICNP). Aturan penamaan dalam biologi, khususnya tumbuhan, tidak perlu dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku bagi tanaman budidaya (Peraturan Internasional bagi Tatanama Tanaman Budidaya, ICNCP).
Aturan penulisan
- Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama ("epitet" dari epithet) genus di awal dan nama ("epitet") spesies mengikutinya.
- Nama genus SELALU diawali dengan huruf kapital (huruf besar, uppercase) dan nama spesies SELALU diawali dengan huruf biasa (huruf kecil, lowercase).
- Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya (artinya, suatu teks yang semuanya menggunakan huruf kapital/balok, misalnya pada judul suatu naskah, tidak menjadikan penulisan nama ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk hal berikut:
- 1. Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis dengan huruf miring (huruf italik), dan sebaliknya. Teladan: Glycine soja, Pavo muticus. Perlu diperhatikan bahwa cara penulisan ini adalah konvensi yang berlaku saat ini sejak awal abad ke-20. Sebelumnya, seperti yang dilakukan pula oleh Carolus Linnaeus, nama atau epitet spesies diawali dengan huruf besar jika diambil dari nama orang atau tempat.
- 2. Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang terpisah untuk nama genus dan nama spesies.
- Nama lengkap (untuk hewan) atau singkatan (untuk tumbuhan) dari deskriptor boleh diberikan di belakang nama spesies, dan ditulis dengan huruf tegak (latin) atau tanpa garis bawah (jika tulisan tangan). Jika suatu spesies digolongkan dalam genus yang berbeda dari yang berlaku sekarang, nama deskriptor ditulis dalam tanda kurung. Teladan: Glycine max Merr., Passer domesticus (Linnaeus, 1978) — yang terakhir semula dimasukkan dalam genus Fringilla, sehingga diberi tanda kurung (parentesis).
- Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum/trivial, nama ilmiah biasanya menyusul dan diletakkan dalam tanda kurung.
- Teladan pada suatu judul: "PENGUJIAN DAYA TAHAN KEDELAI (Glycine max Merr.) TERHADAP BEBERAPA TINGKAT SALINITAS". (Penjelasan: Merr. adalah singkatan dari deskriptor (dalam contoh ini E.D. Merrill) yang hasil karyanya diakui untuk menggambarkan Glycine max. Nama Glycine max diberikan dalam judul karena ada spesies lain, Glycine soja, yang juga disebut kedelai.).
- Nama ilmiah ditulis lengkap apabila disebutkan pertama kali. Penyebutan selanjutnya cukup dengan mengambil huruf awal nama genus dan diberi titik lalu nama spesies secara lengkap. Teladan: Tumbuhan dengan bunga terbesar dapat ditemukan di hutan-hutan Bengkulu, yang dikenal sebagai padma raksasa (Rafflesia arnoldii). Di Pulau Jawa ditemukan pula kerabatnya, yang dikenal sebagai R. patma, dengan ukuran bunga yang lebih kecil.
- Sebutan E. coli atau T. rex berasal dari konvensi ini.
- Singkatan "sp." (zoologi) atau "spec." (botani) digunakan jika nama spesies tidak dapat atau tidak perlu dijelaskan. Singkatan "spp." (zoologi dan botani) merupakan bentuk jamak. Teladan: Canis sp., berarti satu jenis dari genus Canis; Adiantum spp., berarti jenis-jenis Adiantum.
- Sering dikacaukan dengan singkatan sebelumnya adalah "ssp." (zoologi) atau "subsp." (botani) yang menunjukkan subspesies yang belum diidentifikasi. Singkatan ini berarti "subspesies", dan bentuk jamaknya "sspp." atau "subspp."
- Singkatan "cf." (dari confer) dipakai jika identifikasi nama belum pasti. Contoh: Corvus cf. splendens berarti "sejenis burung mirip dengan gagak (Corvus splendens) tapi belum dipastikan sama dengan spesies ini".
- Penamaan fungi mengikuti penamaan tumbuhan.
- Tatanama binomial dikenal pula sebagai "Sistem Klasifikasi Binomial".